Landasan Akademis untuk
Pengembangan Program Studi
Pada Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi
UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta
Oleh: Murodi
Pengantar
Salah seorang Islamisis, John L. Esposito, dalam karyanya, Islam and Politics, mengatakan bahwa revolusi Islam Iran pada 1979 menandai sejarah baru “kebangkitan kembali Islam sebagai sumber garakan sosial dan politik”. Revolusi Islam di Iran tidak hanya memberikan sebuan inspirasi tentang efektivitas media elektronik dalam gerakan-gerakan perubahan social. Sebagaimana dicatat dalam sejarah, dengan memanfaatkan kaset dan tape recoreder, Ayatollah Khomaeini menyalakan api revolusi di hati setiap Muslim Iran. Rekaman ceramah-ceramahnya dikirim dari tempat pengasingannya, Paris ke berbagai tempat ibadah di kota-kota Iran. Sirkulasi kaset yang berisi ceramah-ceramah itu mematangkan semangat revolusi yang sudah ditanam benihnya, baik oleh intelektual muslim kenamaan Iran, seperti Ali Shari’ati, maupun Ayatollah Khomaeni sendiri.
Sejak revolusi yang bersejarah itu,media komunikasi massa-- cetak dan elektronik—menjadi bagian penting dari gerakan-gerakan sosial keagamaan. Koran, majalah, jurnal, bulletin, cassette dan tape recorder, radio, televisi, internet, dan mobile phone merupakan media-media yang belakangan ini semakin intensif bersentuhan dengan dakwah. Hampir setiap stasion radio, televisi, juga menawarkan beragam acara keIslaman. Begitu juga provider mobile phone juga menawarkan nsehiat-nasiha ruhani dan bimbingan ajaran Islam lainnya melalui Short Massage Service (SMS) berkolaborasi dengan otoritas-otoritas baru dalam bidang keIslaman. Bahkan terakhir, yang luar biasa dahsyatnya adalah internet. Lewat jejariang social dan situs-situs lainnya, seperti blog dan lain-lain, mulai mengeser pengaruh otoritas keagamaan. Kini, banyak masyarakat jika ingin mengetahui informasi mengenai keIslaman, mereka bisa mencarinya di google, sehingga banyak masyarakat muslim yang seolah merasa tak perlu lagi datang ke lembaga-lembaga keagamaan dan bertanya kepada seorang ulama yang memiliki otoritas keagamaan.
Melihat kenyataan ini, muncul pertanyaan. Bagaimana Perguruan Tinggi Islam merespons terhadap perkembangan-perkembangan tersebut? Apakah Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi telah merespons perkembangan tersebut atau belum? Jika belum, apa langkah selanjutnya? Perlukah perubahan orientasi Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi menjadi Fakultas Ilmu Komunikasi—mengingat yang terakhir lebih prospektif, terlebih zaman kini dikenal dengan era komunikasi? Atau FIDKOM hanya sekadar melakukan revisi berbagai nomenklatur kelembagaan dan kuriukulm, untuk menjawab semua pertanyaan tersebut? Pertanyaan-pertanyaan tersebut kiranya perlu kita diskusikan lebih serius lagi, guna menjawab berbagai persoalan umat dan bangsa yang kini tengah menuju sebuah perubahan lebih besar lagi.
Konteks
Dua peristiwa penting menandai perkembangan baru dalam dunia komunikasi. Pertama, penerbitan karya Marshall McLuhan, Understanding Media: The Extensions of Man pada dekakde akhir 1960-an. Ini menandai sebuah babak baru dalam studi-studi komunikasi massa. Sebelumnya, media massa hanya dipahami semata-mata sebagai media. McLuhan telah mengubah pandangan tersebut dengan mengatakan --- dalam satu sub-bab---bahwa the medium is the massage. Dalam pengertian ini, media tidak hanya penyampai pesan, tetapi telah menjadi pesan itu sendiri. Selain itu, boleh dikatakan sejak saat itu, beberapa istilah yang sekarang ini sangat popular, seperti global village dan age of information, mendapatkan landasan teoritisnya. Istilah global Village, menunjuk pada kenyataanbahwa masyarakat global tengah mengalammi pproses menuju komunitas tunggal yang dihubungkan oleh media komunikasi. Sedangkan istilah age of information, menunjuk pada kenyataan bahwa informasi—dan media informasi—menjadi ujung tombak dalam berbagai bidang kehiidupan.
Kedua, kemunculan internet. Dalam konteks Islam, hal ini menandai lahirnya ruang publik baru (new public sphare) yang dapat disebut sebagai Cyber Islamic Environments. Yang dimaksud adalah sebuah ruang public di mana diskusi dan interaksi antara sesame Muslim, semakin tidak terbatas, bersifat publik, dan non-personal. Batas-batas social, politik, ideologis dan geografis, juga semakin kabur. Setiap Muslim bisa berpartisipasi dan mengekspresikan pan¬dangan-pandangannya secara bebas. Dalam konteks dakwah, internet—sebagai ruang publik baru—mengalami perkembangan luar biasa.internet telah menjadialternatif, di sampng media elektronik lain, untuk mendiskusikan beragam masalah. Di internet, berkembang wacana tentang produksi dan reproduksi pengetahuan Islam, perdebaan antara universalitas dan lokalitas Islam, fatwa halal-haram dan siapa otoritas yang memberikan fatwa, bahkan jadual shalat world wide. Belakangan bahkan mulai berkembang konsep E-Jihad, yaitu jihad berbasis media massa. Dapat dikatakan bahwa Cyber Islamic Environments memiliki potensi untuk mengubah pemahaman keagamaan dan ekspresi masyarakat Muslim, sekaligus menjadi kekuatan untuk membangun dialog dengan sesame dan kelompok-kelompok keagamaan lain. Kepemilikan media internet—lebih tepatnya website—merupakan elemen signifikan bagi setiap organisasi dan gerakan dakwah. Sebuah spektrum yang bersifat kompleks tentang akses, dialog, networking, dan alikasi media akan muncul bersamaan dengan kemunculan cyber Islamic environments ini.
Bagi kalangan Muslim modern, internet merupakan media elektronik yang terdepan. Di Negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim, sebagaimana ditulis United Nations Developmen Report 2001, penggunaan internet mengalami perkembangan dan peningkatan. Dalam laporan tersebut, antara lain disebutkan bahwa Turki dilaporkan memiliki 2.5. internet hosts per 1000 penduduk, Malaysia 2.4, Libanon, 2.3, Oman 1.r., Kyrgystan 1.1, Kazakhstan 0.6, Arab Saudi dan Turkmenistan memiliki 0.3, Jordan, Senegal dan Indonesia 0.2, Albania, Mesir, Maroko, Pakistan, Tajikistan dan Syria 0.1. Bangladesh dan Sudan 0.0. Negara Arab yang memiliki indeks tertinggi adalah Uni Emirat Arab, dengan 20.9 hosts per-1000 penduduk. Dibandingkkan dengan Negara-negara Barat, misalnya, USA yang memiliki 179.1. hosts untuk setiap 1000 penduduk, dan Belanda yang memiliki angkat 136.0, angka-angka tersebut masih rendah. Kemungkinan kinii sudah mengalami perkembangan yang cukup signifikan.
Siapa otoritas religius dalam cyber Islamic environments ini? Inilah perta¬nyaan penting yang harus mendapatkan perhatian kalangan perguruan tinggi Islam. Mufti di internet sekarang ini tidak hanya ulama−dalam pengertian tradisional – tetapi juga kelompok-kelompok terpe¬lajar Muslim baru yang tidak selalu berlatarbelakang pen¬didikan keIslaman,namun memiliki komitmen keIslaman yang sama kuatnya. Mereka adalah para professional yang memiliki latar belakang pendidikan sekuler–sebagian di antaranya adalah para insinyur–yang menggali pengetahuan keIslaman secara oto¬didak. Karena perjumpaan personal tidak dibutuhkan, maka sebenarnya siapa saja yang menjadi “mufti” di internet. Inilah yang disebut “fragmentasi otoritas keaga¬ma¬an”. Siapakah kemudian the makers of contemporary Islam? Ulama, intelektual Muslim, kaum terpelajar Islam,yang telah sama-sama muncul sebagai otoritas religious pada era modern, akan berhadapan dalam konteks “competing conceptions of Islam”.
Kondisi Obyektif
Prof. Dr. Deliar Noer, seorang Muslim modernis melakukan riset tentang ge-rakan modernisasi Islam di tanah air. Hasil kajiannya tertuang dalam karya monu-mentalnya, The Moderenist Muslim Movement in Indonesia 1900-194., Karya tersebut mengindikasikan bahwa sejarah Islam dalam Indonesia adalah sejarah gerakan sosial keagamaan. Perjumpaan Islam dan modernitas di Indonesia menjadi latar belakang kemunculan organisasi-organisasi social-keagamaan Islam. Sejarah mencatat Sarekat Islam (1911),Nahdatul Ulama atau NU (1926) dan organisasi social-keagamaan Islam lain. Penting ditegaskan bahwa gerakan dakwah mendapatkan perhatian besar dari organisasi-organisasi tersebut,meskipun bentuknya masih terbatas pada kegiatan-ke¬giatan social,ceramah (tabligh),debat dan penerbitan buku atau jurnal. Tentang pernebitan jurnal ini perlu mendapatkan perhatian tersendiri karena “print culture” termasuk media baru dalam tradisi Islam sebelum munculnya internet.
Dalam konteks gerakan-gerakan tersebut,perguruan tinggi agama Islam (UIN/IAIN/STAIN) memainkan peranan besar,termasuk Fakultas Dakwah – yang dapat dijumpai hamper di seluruh UIN/IAIN/STAIN. Menurut penelitian PPIM UIN Jakarta, IAIN merupakan “pemasok” pemimpin keIslaman yang memainkan peranan penting dalam kegiatan dakwah. Survey pad 1999 menunjukkan bahwa dari 130 pe¬santren di 27 kabupaten yang tersebar di 6 propinsi di Indonesia, 20,8 persen di an¬ta¬ranya dipimpin alumni IAIN. Dari 729 ustadz yang mengajar di pesantren-pesantren tersebut sebanyak 36 persen adalah juga alumni IAIN. Data itu menunjukkan peran penting lembaga pendidikan dalam gerakan dakwah.
Banyaknya lembaga-lembaga Islam yang bertemu dengan semakin bera¬gam-nya media elektronik yang dapat dipergunakan sebagai media untuk menyampaikan pesan membawa kepada semakin beragamnya pandangan-pandangan keagamaan yang disajikan. Dalam usaha memetakan Voices of Islam in Southeast Asia,Greg Fealy dan Virginia Hooker memberikan gambaran tentang Islam Indonesia yang sangat kompleks. Isu-isu utama Islam Indonesia mencakup tidak hanya konsep relasi Islam dan Negara,konsep-konsep politik Islam,Islam kultural,Islam politik,penerapan shari’ah Islam,system ekonomi Islam,filantropi Islam,Islam radikal dan sebagainya. Isu-isu tersebut merupakan lahan garapan gerakan dakwah yang selama kurang dielaborasi.
Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Jakarta memiliki 4 (empat) Jurusan/Program Studi (departemen) dan 2 (dua) Konsentrasi (program studi). Pertama,Jurusan/Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI). Di bawah jurusan ini terdapat Konsentrasi Jurnalistik (yang sedang dipersiapkan menjadi program studi). Kedua,Jurusan/Program Studi Bimbingan dan Penyuluhan Islam (BPI). Ketiga,Jurusan/Program Studi Manajemen Dakwah (MD). Di bawah jurusan ini terdapat Program Studi Kesejahteraan Sosial (Kessos) (Sedang dipersiapkan menjadi program studi).
Pengembangan Jurusan KPI
Argument di atas memberikan penjelasan bahwa ilmu komunikasi mengalami perkembangan pesat tidak hanya pada tingkat internasional,tetapi juga di Indonesia. Perkembangan tersebut telah dimanfaat beberapa perguruan tinggi di Indonesia dengan menawarkan studi-studi bidang komunikasi kepada para calon mahasiswa. Meskipun belum dilakukan penelitian,terbukti peminat studi-studi komunikasi di sejumlah perguruan tinggi di Indonesia mengalami peningkatan signifikan. Perkembangan-perkembangan tersebut membuka peluang bagi perkembangan Jurusan KPI. Dimasa depan, Fakultas Dakwah dituntut menawarkan varian-varian ilmu komunikasi sebagai jurusan atau program studi.
Berikut beberapa Jurusan/Program Studi yang dapat dibuka di Falkutas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi:
1. Program Studi Jurnalistik ( sudah mengalami perkembangan)
Dalam program studi ini mahasiswa belajar menguji pemberitaan di media massa ber¬landaskan teori-teori tentang media massa. Mereka juga belajar menulis berita-berita dan laporan inverstigatif dengan dasar-dasar etika jurnalitistik. Secara khusus misi program studi adalah membangun wawasan mahasuswa agar mampu berpikir kritis, memahami konsep, dan memiliki keterampilan, yang akan mengantarkan me¬reka berkarier di dunia komunikasi massa dan mendorong kehidupan masyarakat sipil yang bersifat multikultural.
2. Program Studi Media Studies
Progran studi ini bertuuan memberikan wawasan dan pengetahuan, teoritis dan prak¬tis, kepada mahasiswa melakukan analisis terhadap media dalam kaitannya dengan bu¬daya dan politik. Media massa-sebagaimana secara ringkas diuraikan padabagian terdahulu-tidak hanya alat menyamp0aikan pesan. Lebih dari itu, media adalah juga pesan dan institusi yang mengkontruksi pesan itu sendiri. Berdasarkan pandangan tersebut,ditambahkan dengan kenyataan beragamnya teori tentang media massa dan membanjirnya media massa belakangan ini, keahlian analisis terhadap media menjadi penting.
3. Program Studi Public Relations
Program studi ini berujuan mencetak para sarjana bidang public relations yang me-miliki pemahaman memadai-teoritis dan praktis-terhadap realitas masyarakat mo-dern, peranan media massa di dalamnya sebagai alat nproduksi dan reproduksi citra danb pencitraan, dan informasi berbasis komputikum di lapangan, mahasiswa akan siap bejerha sebagai ujung tombak public relations di lembaga-lembaga profit dan non-profit.
4. Jurusan Prigran Studi Radio, Televisi, dan Film
Tujuan utama jurusan/program studi ini adalah mempersiapkan mahasiswa sebagai pekerja dan professional bidang komuhnikasi elektronik (radio, televisi, dan film) yang memiliki sensitifitas multicultural dan tanggung jawab etis dalam pemberitaan. Dengan menawarkan kombinasi antara kuliah-kuliah teoritis dan aktifitas praktikum, mahasiswa akan membangun kapasitas dan kapabilitasnya untuk bekerja secara professional dalam media elektronik.
5. Program Studi Desain Grafis
Tujuan utama program studi ini adalah mendidik mahasiswa menjadi pekerja pro-fessional dalam bidang desain grafis media massa, baik cetak maupun elektronik. Desain grafis merupakan aspek penting dalam mengkomunikasikan pesan melalu media massa. Program studi ini menekankan aspek praktis daripada teoritis sehingga para alumninya siap memasuki lapangan kerja.
Pengembangan Jurusan Manajemen Dakwah
Jurusan Manajemen Dakwah (MD) bertujuan mencetak para manajer yang siap mengelola lembaga-lembaga berbasis Islam, baik yang bersifat profit maupun non-profit. Ada hal Penting yang perlu dijadikan perhatian bahwa jurusan ini berge¬sekan dengan jurusan yang sama di Fakultas Ekonomi dan Bisnis - contoh kasus UIN Jakarta. Jurusan Manajemen Dakwah, dengan demikian, harus mengambil area of studies yang khas dan berbeda. Berdasarkan kenyataan tersebut, pengembangan Ju¬rusan Managemen Dakwah harus difokuskan kepada dua program studi.
1. Program Studi Manajemen Haji dan Umroh.
Beberapa alasan dapat dikemukakan. Antara lain. (1) peningkatan jumlah kaum Mus¬lim yang berniat menunaikan jama’ah haji dan umrah, (2) manajemen haji dan umrah yang terus menerus mengalami perbaikan kualitas, dan (3) kebutuhan pembimbing haji yang mengalami peningkatan.
Pengembangan Kerjasama dengan lembaga-lembaga terkait:.
a. Kemenag;
b. Dinas/ Urusan Haji, BPIH, AMPUS, dll..
c. Kemenkes.
d. AKHI.
e. Peningkatan kuualitas SDM .
1. Mahasiswa. Proses penerimaan harus lebih selektif.
2. Tenaga Pengajar. Pengiriman/ Penugasan belajar, pelatihan, dll.
f. Review Curriculum.- Workshop
g. Seminar, workshop, lokakarya.
h. Penelitian dan Pelatihan.
2. Program Studi Pengembangan Lembaga Is¬lam. Manajemen ZISWAF
Program studi ini diarahkan untuk mencetak sarjana Muslim yang memiliki ke-mampuan manajerial pengembangan lembaga-lembaga Islam. Jumlah lembaga seper¬ti semakin besar dengan variasi aktivitas yang sangat beragam.
a. Studi Kelayakan.
b. Workshop pembentukan prodi Pengembangan Lembaga Islam.
c. Pembentukan Kerjasama dengan Lembaga-lembaga Islam.
d.
Pengembangan Jurusan PMI
Jurusan Pengembangan masyarakat Islam (PMI) bertujuan mencetak sarjana Muslim yang memiliki kemamp;uan melakukan pengembangan masyarakat dengan berbasis pada lembaga-lembaga dan nilai-nilai keIslaman. Dalam istilah lain, jurusan ini dimaksudkan untuk mencetak sarjana bidang community development yang me¬miliki kemampuan mengintergrasikan antara teori-teori pengembangan masyarakat, lembaga-lembaga social Islam, dan nilai-nilai keIslaman. Keberadaan Jurusan PMI dapat dikatakan sebagai ‘’jalan baru Islam’’, yaitu jalan yang ditempuh sebagian in¬telektual Muslim untuk terlibat secara intensif dengan gerakan-gerakan social dengan modus Non-governmental Organization (NGO) atau Lembaga Swadaya Ma¬syarakat (LSM)
Jalan tersebut, yang oleh de Tocqueville disebut gerakan ‘’jalan ketiga’’, ditem¬puh dengan tujuan membangun wancana tentang pemberdayaan civil society di ka¬langan Muslim Indonesia. Dalam konteks ini misi utama Islam adalah kemanusiaan. Islam harus menjadi satu kekuatan bagi pemecahan masalah-masalah kemanusiaan di berbagai bidang, ekonomi, sosial, pollitik dan juga budaya. Oleh karena itu, pengem¬bangan masyarakat, penyadaran hak-hak politk rakyat, penciptaan keadilan sosial, harus menjadi agenda-agenda utama. Islam harus diterjemahkan sebagai alat untuk memecahkan masalah-masalah sosial Muslim. Dalam rangka mengintegrasikan dok¬trin Islam dan pemberdayaan masyarakat, sebagian sarjana Muslim bahkan berusaha merumuskan sebuah ‘’teologi Islam baru’’ yang memihak kepada kemanusiaan.
Dalam konteks ini, memperkaya Jurusan PMI dengan Program Studi Kese-jahteraan Sosial akan semakin memperkuat jurusan ini. Pertimbangannya antara lan, bahwa setelah reformasi, gerakan LSM Muslim menunjukkan gejala yang semakin beragam. Keseragaman itu terutama dipicu oleh situasi politik Indonesia yang semakin terbuka. Konsep-konsep Islam seperti zakat,infaq dan sadaqah,semakin mendapat tempat dalam gerakan pemberdayaan masyarakat. Lebih dari itu,konsep-konsep ekonomi Islam juga mendapat perhatian. Beberapa kalangan bahkan mulai rajin mengembangkan Bank Shari’ah di Indonesia. Dalam konteks perkembangan baru gerakan Islam di Indonesia–yang pada tingkat tertentu juga merupakan bagian dari gerakan dakwah−paling sedikit terdapat dua kecenderungan utama yang patut dicatat,yaitu gerakan bank shari’ah dan gerakan pengelolaan zakat,infaq,dan shadaqah. Meskipun berbeda,antara keduanya memiliki keterkaitan konseptual dan doctrinal yang sangat kental. Hal ini karena,mengutip M. Dawam Rahardjo, bank shari’ah berkaitan dengan riba,sementara zakat berkaitan dengan keadilan sosial,dua buah sendi perekonomian yang sangat penting.
Pengembangan Jurusan Kesejahteraan Sosial
Kesejahteraan Sosial memiliki tradisi panjang dalam duni akademis. Program studi ini tidak hanya ditemukan di universitas-universitas sekuler di Indonesia, tetapi juga di luar negeri. Mengambil program studi ini sebagai bagian dari UIN/IAIN/ STAIN akan mengintegrasikan perguruan tinggi Islam dengan perguruan tinggi lain. Ini akan menjadi langkah penting mengembangkan konsep da’wah bi al-hal dengan konsep-konsep modern yang telah berkembang pesat dalam tradisi akademik.
Penutup
Lembaga-lembaga pendidikan Islam sekarang ini ditantang untuk berani merumuskan kembali kajian-kajian keIslaman yang dikembangkan. Tidak hanya harus lebih memperkaya kajian-kajian keIslaman,lebih dari itu−yang tidak kalah penting−juga harus berani mendekonstruksi jurusan/program studi yang sudah ada. Hanya dengan begitu,maka pendidikan Islam akan memproduksi masyarakat Islam yang tidak hanya modern,toleran,dan siap memasuki sebuah budaya global yang bersifat multikultur dengan tradisi ilmu komunikasi yang kuat,tetapi juga siap menyajikan program-program konkret pemberdayaan masyarakat dalam konteks da’wah bil al-hal.
Demikianlah, kontrobusi pemikiran mengenai pengembangan program studi/ jurusan yang ada di lingkungan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi. Semoga dapat menjadi bahan diskusi menarik dalam merumuskan pokok-pokok pikiran yang lebih strategis lagi di masa mendatang.
Pamulang, Februari 2012
Murodi