Minggu, 25 Maret 2012

Komodifikasi Perempuan di Media Massa

Menyoal Komodifikasi Perempuan
di Media Massa


Oleh : M u r o d i


Pengantar

Sejak lama, perempuan menjadi bahan per¬bin¬cangan menarik, tidak ha-nya di kalangan para akademisi, aktivis LSM, pemerintah, juga ma¬sya-rakat ke¬banyakan. Tidak hanya di forum-forum seminar, diskusi, work-shop pada tempat-tempat bergengsi, juga di tem¬pat-tempat biasa, di dalam perjalanan hingga warung kopi. Hal ini terjadi, antara lain, karena perempuan merupakan ciptaan Tuhan yang paling menarik perhatian sepanjang masa. Tidak ada habisnya perem¬puan diperbincangkan; mulai dari kecantikannya, perilakunya, peran dan fungsinya, dan lain sebagainya. Wajar kalau kemudian di dalam al-Qur’an, sebagai pedo¬man umat Islam, tidak dite¬mukan satu suratpun secara eksplisit menyebut surat al-Rijal, yang ada hanya surat al- Nisa, serta ada hadits yang intiya menyebutkan surga bera¬da di bawah telapak kaki ibu (kaum perem¬puan), dan tidak menyebutkan ia berada di bawah telapak kaki (kaum lelaki).

Selain itu, ada nomenklatur ibu yang sering kita dengan mengenai per¬is-ti¬lah¬an yang dijadikan sebagai simbol, seperti di Indonesia hanya ada ibu kota, tidak ada bapak kota, ada hari ibu, tapi tidak ada hari bapak. Untuk media cetak, hanya ada majalah Kartini, tidak ada majalah Kartono, dan sebagainya. Kenyataan ini mengisyaratkan sekali lagi bah¬wa perempuan menjadi discourse penting sepanjang masa.

Hanya pertanyaannya kemudian, apakah ekspose, baik oleh media mas¬sa cetak maupun elektronik perihal perempuan itu merupakan suatu upaya mengangkat martabat perempuan, atau sebaliknya, perempuan hanya di-jadikan sebagai bahan komoditi sebagai bagian dari eksploitasi potensi perempuan? Pertanyaan-pertanayaan inilah yang harus men¬da¬pat jawaban yang proporsional.

Perempuan dan Media Massa:
Menyoal Komodifikasi Perempuan

Tidak dapat disangkal bahwa era global seperti sekarang ini, media massa menjelma menjadi sebuah kekuatan baru. Hampir tidak satupun sektor kehidupan masyarakat yang luput dari pengaruh terpaan media massa. Hal itu dapat dilihat dari adanya kekuatan luar biasa yang dimiliki media massa, khususnya dalam melakukan konstruksi sebuah re-laitas, sehingga media massa mampu menciptakan image bagi individu, masyarakat dan bahkan negara.

Kehebatan media massa yang begitu besar mampu mempengaruhi ma-syarakat terhadap sebuah realitas simbolik yang disajikan media massa, termasuk soal pola relasi yang ideal antara kaum perempuan dengan me-dia massa. Salah satu contoh kasus yang sering diekspos media mas¬sa, baik cetak maupun elektronik, adalah masalah aborsi, perkosaan dan periklanan.

Perkosaan dan aborsi yang menimpa kaum perempuan selalu men¬da¬pat ekspos berlebih, bahkan hujatan dari media selalu diarahkan kepada kaum perempuan. Dan yang banyak melakukan hujatan umumnya kaum lelaki. Eksploitasi media massa yang dinilai berlebihan, rasanya selalu memojokkan kaum perempuan. Dalam reportase yang disampaikan kepada publik, tampak jelas hanya laporan mengenai perilaku perempuan pelaku aborsi dan korban perkosaan. Corong media selalu diarahkan kepada pelaku aborsi dan korban perkoasaan, tidak berusaha mencari tahu siapa laki-laki yang memperkosa dan membuat si perempuan hamil dan melakukan aborsi. Juga investigasi mengenai latar belakang pelaku melakukan tindakan aborsi. Di sini terkesan, media terlalu berpihak pada kaum lelaki. Karenanya wajar bila kemudian Menteri Pemberdayaan Perempuan berkomentar, seperti dikutip Harian Ibu bah-wa pers nasional belum berpihak pada pemberdayaan perempuan (Li¬hat. Harian Ibu, 9 Februari 2006). Menteri sangat prihatian – meskipun tidak semua media massa mela¬ku¬kannya-- atas berita atau tayangan yang bersifat provokatif yang terkesan melecehkan kaum peremuan atas tindakan kekerasan yang dideritanya tanpa ada berita lain yang merupakan perlindungan terhadap mereka.

Pemberitaan yang terkesan tidak berpihak pada kaum perempuan itu menimbulkan--paling tidak-- dampak psikologis dan sosiologis. Dampak psikologisnya, ia merasa malu, minder, putus asa, bahkan tidak mau bermasyarakat lagi, karena ia sudah merasa dihakimi sebelumnya, baik oleh ma¬syarakat maupun media massa. Karena begitu besar peran media dalam memblow up berita seperti ini, tak jarang mereka yang melakukan perbuatan nekat dengan mencoba mengakhiri hidupnya.

Dalam konteks in, saya mohon maaf bukan bermaksud menganggap pe-ran negatif media dalam pemberitaan contoh kasus seperti di atas, tetapi ini hanya merupakan pengamatan sepintas yang dilakukan untuk kemu-di¬an dijadikan catatan pinggir oleh saya yang awam dalam masa¬lah media massa dan terlebih yang berkaitan dengan persoalan perempuan. Karena selama pengamatan yang saya lakukan, hal itulah yang saya temukan sementara. Bahwa kemudian ada perubahan dan perbaikan, itu menjadi catatan tambahan penting buat saya. Hanya saja, ada catatan lain yang perlu juga didiskusikan bersama di sini, yaitu soal komodifikasi perempuan, seperti banyak terdapat di dalam periklanan.

Percaya atau tidak, bila kita baca dan lihat iklan-iklan di media cetak dan elektronik, maka terlihat jelas di situ ada semacam ekspolitasi perempuan, mulai dari kecantikan tubuh dan perilakunya, selalu menjadi bahan komoditi bernilai jual. Semakin cantik dan daya tariknya kian menarik, semakin lama ditampilkan. Tubuh dan seksualitas perempuan dijadikan alat komoditi untuk tujuan komersial, di mana kapitalisme atas nama globalisasi sangat berperan aktif ( lihat: Rena Herdiyanai, Jurnal Perempuan, 6 April 2006)

Banyak iklan yang ditampilkan di media TV menjurus ke areah itu; mu¬lai dari iklan rokok, penambah energi, obat kuat, kondom, kendaraan, mi-numan dan sebagainya. Salah satu contoh adalah iklan obat penam¬bah daya. Di situ digambarkan kemolekan tubuh seorang perempuan sebagai model iklan. Sambil berdesah ia memeliukkan tubuhnya seraya menan-tang kaum maskulin. Contoh lain adalah iklan kopi susu. Di situ model iklan yang diperankan seorang lelaki sambil meminum kopi ia berkata “pas susunya”. Usai berkata demikian, muncul payudara perempuan. Di sini unsur pelecehan perempuan sangat kuat terlihat. Karena kemudian penonton diajak berimajinasi liar. Hanya saja pertanyaannya, apakah pemeran iklan dan media menyadari hal itu? Ini yang harus mendapat penjelasan dari mereka yang terlibat. Saya khawatir, jangan-jangan itu hanya imajinasi saya saja, sehingga penilian yang sangat prejudis terhadap media sangat berlebihan. Sementara mereka biasa-biasa saja.

Bila citra streotip tentang perempuan seperti terdaat dalam iklan-iklan di media massa melekat dalam masyarakat, maka tak heran bila biro iklan mengikuti selera masyarakat dan menggantungkan dirinya pada komo-difikasi tubuh perempuan. Karena dalam iklan, segi komersial menjadi pertimbangan utama. Di antara alasan mengapa perempuan menjadi model iklan, menurut Rena Herdiyani, karena dua hal. Pertama, sebagian besar iklan ditujukan pada perempuan sebagai pembeli poten¬sial produk yang diiklankan di Indonesia sebagian besar adalah barang konsumsi sehari-hari. Kedua, yang menentukan pembelian barang-barang ini adalah perempuan yang memegang peran dalam keuangan keluarga.

Dengan demikian dapat dipahami logika pabrik yang memproduk barang-barang konsumsi dan media yang mengiklankannya, dan peran media sangat besar dalam mempromosikan produk industri seperti dicontohkan di atas.


Penutup

Dari paparan singkat—yang merupakan hasil pengamatan sementara—dapat dipahami bahwa media massa kebanyakan hanya memanfaatkan perempuan sebagai obyek, belum menjadikan perempuan sebagai ob¬yek. Ini dapat dilihat dari berbagai iklan yang ditayangkan di TV, in¬ternet dan media cetak. Banyak iklan, kesan saya, hanya sebatas men¬jadikan pe-remp¬uan sebagai komoditi dengan mengekploitasi potensi perempuan dari sisi luar, belum memanfaatkan potensi yang ada di da¬lam diri perempuan secara maksimal dan komprehensif.



Murodi adalah Guru Besar Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.