Model Dakwah di Media Elektronik :
Sebuah Pengantar Diskusi
Oleh : Murodi*
Pengantar
Puji syukur kita panjatkan kepada Allah Swt, Tuhan Yang Maha Esa, karena pa¬da hari ini kita dapat melakukan pertemuan untuk mendiskusikan masalah-ma¬salah yang berkaitan dengan perkembangan dakwah di tanah air, dan men¬ca¬ri¬kan solusi bagi pemecahan masalah tersebut. Sha¬la¬wat serta salam disam¬pai¬kan kepada Nabi Muha¬mad Saw, para sahabat dan para penerusnya hingga akhir zaman.
Selanjutnya, saya juga mengucapkan terima kasih kepada dekan Fakultas Dak¬wah dan segenap panitia yang telah memberikan waktu untuk sekedar bertukar pikiran dengan kawan-kawan mengenai perkembangan dakwah. Pada kesem¬patan kali ini, saya diminta untuk memberikan pengantar mengenai perkem¬ba¬ngan dakwah di media elektronik dengan judul Model Dakwah di Media Elek¬tronik. Agar tidak merambah ke ranah media elektronik lain, dalam tulisan ini hanya akan dibahas Model Dakwah di Televisi, dengan spesifikasi pada acara keagamaan saja. Pembatasan ini menjadi sangat penting, mengingat model dak¬wah di televisi sangat banyak jumlahnya, selain jumah stasion televisi yang ada juga cukup banyak, baik lokal maupun nasional.
Selain itu, saya mohon maaf apabila pembahasan tulisan ini tidak tuntas, karena sesuatu dan lain hal.
Televisi :
Sekelumit Sejarah Televisi di Indonesia
Kita tahu bahwa televisi yang sering kita tonton, bukanlah media elektronik bi¬a¬sa, karena ia dapat mempengaruhi penontonnya bagai dihipnotis. Televisi me¬mi¬liki sejarah panjang sejak dilahirkan hingga kini, dan bahkan akan meng¬alami perkembangan yang sangat baik di masa-masa mendatang, sesuai per¬kem¬bang¬an teknologi elektronika.
Dalam tataran sejarah pertelevisian diketahui bahwa media elektronik bernama televisi ini bermula dari ditemukannya electrische teleskop oleh seorang ilmuan muda dari Jerman bernama Paul Nipkov pada 1884. Ia menemukan sebuah alat yang kemudian disebut dengan Jantra Nipkov atau Nipkov Scheibe. Kini, dunia pertelevisian telah mengalami perkembangan sangat pesat, tidak hanya dari segi teknologi, juga dari segi model dan lain sebagainya.
Di Indonesia, TV baru diperkenalkan pada 1962 ketika Indonesia menjadi tuan rumah pesta oleh raga Asia ( Asian Games ke-4). Sejak saat itu hingga kini, TV di Indonesia mengalami banyak perkembangan, baik dari segi jumlah stasion maupun program kegiatan. Pertambahan jumlah stasion televisi terjadi di akhir tahun 1980-an, dengan lahirnya stasion televisi RCTI, kemudian diikuti oleh TPI, SCTV, ANTEVE, INDOSIAR, MATRO TV, LATIVI, GLOBAL TV, TV 7, dan TV lokal seperti JakTV, dan lain-lain. Masing-masing stasion memiliki rancangan prorgam tersendri, sesuai desain yang mereka punyai, termasuk desain program dakwah di tv.
Berdakwah melalui Media Televisi:
Sebuah keharusan
Selama ini, sadar atau tidak, telah terjadi upaya simplipikasi (penye¬der-ha¬naan) terhadap pemahaman makna dakwah. Dakwah atau berdakwah hanya di¬pa¬ha¬mi sebatas bertabligh yang menggunakan media mimbar dengan meng-gu¬nakan bentuk komunikasi personal atau searah, tidak timbal balik. Padahal, pe¬ngertian dakwah sangat luas dan dapat menggunakan media apa saja untuk me¬nyam¬pai¬kan pesan kepada publik, terutama media cetak dan elektronik, yang merupakan hasil perkembangan dan kemajuan teknologi komunikasi.
Dewasa ini, media, khususnya komunikasi dan informasi, telah mencapai tahap yang sangat mencengangkan. Betapa tidak, perkembangana teknologi dari mulai yang paling sederhana hingga yang paling mutakhir, kini telah terbiasa dipakai dan dinikmati. Perkem¬bangan teknologi yang demikian tentu memer¬lu-kan penyesuaian dan keteram¬pilan tersendiri dalam menggunakannya.
Perkembangan teknologi komunikasi yang terjadi dewasa ini telah sangat jauh dan semakin beragam. Karena itu, media canggih seperti TV harus diman-fa¬atkan scara optimal bagi upaya penyebaran dakwah di kalangan masyarakat muslim, khususnya muslim Indonesia. Hanya saja, harus ada inovasi terkini agar massa muslim sebagai pemirsa, tidak mengalami kejenuhan, apalagi bila pola dak¬wah¬nya bersifat monoton-monolog. Karena dalam pengamatan sepintas, program keagamaan yang terdapat di televisi, hampir-hampir kurang pemir¬sanya, karena terlalu monoton dan terkesan menggurui. Apalagi untuk program kuliah subuh, yang dilaksanakan pada pagi hari sekitar jam 5.00 s/d jam 6.00 hanya untuk pemirsa Indonesia Bagian Barat, sedang untuk pemirsa Indonesia bagian Timur atau Tengah, mereka sudah tidak ada waktu lagi, karena mungkin mereka se¬dang dalam perjalanan menuju tempat kerja atau bahkan sudah di tempat kerja, sehingga program siaran keagamaan tersebut tidak ditonton secara aktif dan me¬nyeluruh oleh pemirsanya. Karena itu, kalau ingin memanfaatkan media tv se¬ba¬gai media dakwah, hendaknya dipikirkan kembali penayangan program ter¬se¬but.
Kenyataan demikian adalah peluang sekaligus tantangan bagi para da’i, akankah ia hanya berdkawah melalui ceramah atau pengajian yang bersifat mo-nolog-mo¬noton atau car-cara tradisional lainnya? Kalau masih seperti itu, maka sulit un¬tuk meningkatkan dan mengefektifkan kegiatan dakwah di televisi.
Oleh karena itu, tidak salah dan bahkan merupakan sebuah keharusan apabila kegiatan dakwah bisa dikembangkan melalui media TV, dan lain se¬ba-gainya. Melalui program yang dikemas secara baik, dan dilaksanakan sesauai dengan rencana, maka kemungkinan pemanfaatakan media elektronik tv dalam berdak¬wah akan lebih efektif.
Perkembangan Dakwah di TV
Tidak dipungkiri bahwa kecanggihan teknologi komunikasi dan infor¬ma-si ikut serta mempengaruhi aspek kehidupan manusia, termasuk di dalamnya kegiatan dakwah sebagai salah satu pola penyampaian informasi dan upaya transfer ilmu pengetahuan kepada khalayak pemirsa. Oleh karena itu, setiap sta-sion televisi harus mengemas program acara dan menyampaikan informasi (dak¬wah) kepada para pemirsa secara komuni¬katif agar pesan-pesan dakwah dapat diterima de¬ngan baik.
Kegiatan dakwah di televisi sebenarnya sudah dimulai di TVRI dengan program Mimbar Agama Islam yang ditayangkan seminggu sekali setiap Kamis malam. Pola penyampaiannya dalam bentuk monolog atau dalam bentuk frag-men/dra¬ma, dan peringatan hari-hari besar Islam. Hanya saja, dari masa ke ma-sa, tampaknya tidak mengalami perkembangan karena tidak ada inovasi prog-ram dakwah di stasion TVRI. Program dakwah di TV baru mengalami perkem-bang¬an ketika TPI, salah satu stasion TV swasta menayangkan program kuliah subuh yang dimulai sejak pukul 5.30-06.00 pagi, sejak saat itu, hampir semua stasion televisi menayangkan program dakwah yang sama, sehingga pemirsa memiliki banyak peluang untuk menonton acara dakwah yang paling disukai. Bahkan masing-masing stasion memiliki cara tersendiri di dalam menarik per-hatian pemirsanya untuk menonton program dakwah di TV, seperti prolog, yang di¬la¬kukan seorang da’i menjelang magfhrib, dialog, telephon (tele¬con¬fren-ce), selain drama dan lain sebagainya.
Model Dakwah di TV
Kita sama tahu, bahwa berdakwah melalui media tv terasa lebih efektif, ketim¬bang media koran. Karena sasaran atau mad’unya langsung dapat men¬de-ngar¬kan acara tersebut, bahkan dapat berinteraksi langsung dengan pem¬bi¬ca¬ra-nya (da’i). Kenyataan ini sekali lagi membuktikan bahwa masyarakat kita masih berada pada tahap masa hearing and wathcing, yaitu lebih suka mendengar dan melihat daripada membaca. Membaca memakan waktu dan energi, sementara menonton dan mendengar tidak terlalu banyak memakan energi, sehingga terasa lebih enak menonton dan mendengar ketimbang membaca. Oleh karena itu, para produser acara keagamaan di televisi harus memanfaatkan peluang ini secara optimal dengan mempertimbangkan segmen pasarnya, tentu.
Seperti diketahui bahwa model dakwah atau pola dakwah yang sudah di-la¬ku¬kan di semua stasion televisi hampir sama, yaitu monolog, dialog, prolog, frag¬men/drama, sinetron, dan lain-lain. Model dakwah pertama, yaitu monolog, dakwah hanya satu arah, kurang ko¬mu¬nikatif. Model dakwah seperti ini dirasa kurang efektif, karena tidak melibatkan pemirsa, baik yang ada di hadapan da’i di stasion tv maupun yang berada jauh di luar stasion tv. Apalagi materi yang dibahas kurang menarik, maka tak heran bila program tersebut tidak banyak diminati.
Model kedua, dialog. Model dakwah seperti ini lebih komunikatif, karena terjadi diskusi antara pembicara (da’i) dengan pemirsa (mad’u), sehingga terasa lebih efektif dan mengena, ketimbang monolog. Apalagi menggunakan model diskusi yang melibatkan banyak pihak, termasuk pihak pemirsa di rumah, maka model ini akan menjadi lebih efektif dan berhasil guna bagi pemirsa, paling tidak bagi pemirsa yang bertanya.
Model lain bisa jadi semisaldakwah tematik, seperti yang disajikan Prof. Dr. Quraish Shihab di Metro TV. Dakwah seperti ini terkesan lebih realistis ka¬re-na menyajikan persoalan-persoalan ril yang terjadi di masyarakat. Misalnya, te-ma tentang Haji, Pusa, Zakat, dan lain sebagainya. Pembahasan tema-tema ter-sebut sangat menarik, selain karena da’inya sangat santun, dengan bahasa yang lugas, dan pembahasan yang tuntas, ditambah dengan penayangan film-film atau gam¬bar-gambar sebagai pendukung dan penguat pembahasan, sehingga le-bih me¬ngena di hati pemirsa (mad’u).
Model terbaru yang kini disajikan oleh stasion televisi adalah berdakwah melalui sinetron religi, seperti Pintu Hidayah, Astaghfirullah, dan lain seba¬gai-nya. Hemat saya, penayangan sinetron religi ini sebagai media dakwah sangat tepat di dalam penggunaan media elektronik. Hanya saja, hemat saya, materi tayangan tidak atau kurang mendidik, karena lebih mengedepankan aspek art nya ketimbang muatannya. Misalnya sinetron “ mayat dililit ular dan ka¬la¬jeng-king”. Dilihat dari temanya saja membangunkan bulu kuduk, apalagi menonton dan membayang¬kannya, sangat tidak mendidik. Namun dilihat dari tujuan, se-benarnya dakwah model ini cukup bagus, hanya penyajian materinya yang di-rasa kurang mengena pemirsa. Saya yakin, tidak semua pemirsa muslim akan menonton dan menyak¬sikannya secara serius, karena dinilai sinetron recehan.
Model seperti ini merupakan tantangan dan sekaligus peluang bagi para da’i, terutama mengenai isi atau materi tayangan tersebut. Diharapkan para da’i mampu memanfaatkan media ini secara optimal agar pesan dakwah benar-benar sampai ke masyarakat dan diterima dengan baik oleh masyarakat.
Penutup
Demikian, sedikit paparan mengenai model dakwah di media elektronik, khu-susnya televisi. Mudah-mudah ada manfaatnya. Amin.
Jakarta, 21 Mei 2007
* Murodi adalah Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi ( FDK) UIN Jakarta
Makalah disampaikan pada pertemuan dewan pakar assosiasi profesi dakwah Indonesia, pada 21- 23 Mei 2007 di IAIN Raden Fatah, Palembang, Sumatera Selatan.