Ketika mendengar berita kematian Mbah Surip, salah seorang musisi yang dianggap " fenomenal" untuk tahun ini, saya tidak berkomentar apa-apa. Karena saya menganggap, berita kematian itu hal yang biasa. Terlebih, orang seperti Mbah Surip, meskipun saya pernah mendengar nama itu sejak pertengahan 90-an, saya anggap musisi yang baru mencapai puncak, ketika di ujung usianya, adalah musisi biasa. Beberapa kawan juga mengatakan hal yang sama. Tetapi, ketika kematian Mbah Surip mendapat respons dari orang nomor satu di negeri ini, presiden Susilo Bambang Yudhoyono, mendadak sontak, semua orang, termasuk wartawan dari berbagai media, meliput secara langsung berita tersebut. Bahkan liputan itu dilakukan hingga ke pemakamannya. Saat itulah, orang seperti Mbah Surip, yang dulunya tidak mendapat sorotan publik, mendadak sontak menjadi terkenal. Bak selebritis kondang dunia.
Fenomena Mbah Surip, sebenarnya terletak bukan hanya pada lirik lagu " Tak Gendong Ke Mana-mana", yang sangat sederhana, mudah dicerna, mulai dari anak-anak hingga dewasa, bahkan para orang tua. Kesederhanaan dan keluguan itulah yang menyebabkan Mbah Surip menjadi tokoh fenomenal di belantika musik Indonesia.
Selain itu, di usianya yang tidak muda lagi, Mbah Surip masih mengabdikan dirinya pada musik yang digelutinya, yakni musik raggae. Tampilan dan gayanya yang mirip Bob Marley, tokoh yang menjadi idolanya, menambah poin penilaian tersendiri. Betapa tidak. Di tengah hingar bingar musik yang ada sekarang, ia masih mampu mempertahankan jenis musik, yang jarang digandrungi anak-anak muda sekarang.
Jenis musik inilah yang merupakan salah satu jenis musik yang saya sukai. Lagu Tak Gendong Ke Mana-mana, mengingatkan saya pada jenis lagu raggae, yang sangat populer di era 80-an. Dan ternyata, karya lagu ini memang diciptakan Mbah Surip, ketika musik raggae tengah populer. Semoga karyanya menjadi karya monumental. Dan Mbah Surip, menjadi musisi fenomena, seperti musisi Gombloh. Ia mencipta lagu. Lalu populer. Setelah itu, tiada.
Selamat Jalan Mbah. Semoga mbah diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa. Amien.
Murodi