Selasa, 25 November 2008

Menjemput Matahari Terbit

Dalam catatan sejarah dunia, Jepang dikenal sebagai negara Matahari Terbit ( The Rising Sun). Sebutan itu masih terkenal hingga kini, bahkan masyarakat Jepang menyebut kaisar sebagai keturunan Dewa Matahari. Dulunya, Jepang dikenal sebagai negeri yang terisolasi dari percaturan dunia internasional. Tetapi, sejak restorasi Meiji ( 1863), Jepang mulai membuka diri dan menerima berbagai unsur peradaban dari luar, sehingga Jepang mengalami kemajuan pesat, termasuk dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.

Perkembangan dan kemajuan sains dan teknologi Jepang, kini mengunguli teknologi negara-negara Barat. Industri otomotif, menjadi salah satu andalan industri Jepang. Bahkan. Jepang memiliki berbagai industri otomotif di negara-negara maju, seperti Amerika Serikat, Australia, Eropa, Afrika, Timur Tengah, dan juga di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Semua itu tidak diperoleh cuma-cuma. Masyarakat Jepang yang dikenal sangat workoholic mampu mengejar berbagai ketertinggalan yang selama pra restorasi Meiji, tidak dapat dilakukan. Keseriusan mereka mengkaji sains dan teknologi, membuat negeri matahari terbit menjadi negara maju di dunia.

Kemajuan-kemajuan itu membuat banyak negara Asia, termasuk Indonesia, mengirim pelajar dan mahasiswa untuk studi di Jepang. Tidak hanya siswa dan mahasiswa, sejak 2003 lalu, pemerintah Indonesia telah menjaling kerjasama dengan pemerintah Jepang untuk mengirim para guru/ ustadz dari berbagai pondok pesantren di Indonesia. Mereka dikirim untuk mempelajari banyak hal di Jepang. Pertanyaannya, mampukan kita menjemput atau mengejar matahari terbit?

Jawabannya, tergantung kepada kita. Mampukan kita merubah watak, kultur dan sistem pendidikan yang salama ini kita geluti. Bila tidak, maka agak kewalahan kita mengejar kemajuan negerai matahari terbit.