Senin, 14 Desember 2009

Guruku Sahabatku

Guruku, Sahabatku:
Catatan Pinggir untuk al-Marhum Prof.Dr.H.Badri Yatim, MA.


Pada 6 Juli 2009, saya mendapat informasi mengenai wafatnya salah seorang guru dan sekaligus sahabat saya, Prof.Dr.H.Badri Yatim, MA. Berita itu saya peroleh dari Yusra Kilun lewat SMS. Antara sadar dan tidak, tangan saya gemetar memencet tuts mobile phone, bermaksud menanyakan kembali apakah benar yang meninggal adalah guru saya itu. Tidak berapa lama, terdengar suara jawaban dari mobile phone, yang membenarkan berita itu. Tetapi, saya tak mempu mengucapkan sedikitpun kata-kata. Mulut terasa berat, terkunci. Sementara, air mata deras mengalir. Tak terbendung. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun.

Setelah mendapatkan kepastian, saya dan isteri segera menuju kediaman al-marhum. Setiba di sana, saya menghubungi seorang teman lama yang kebetulan tokoh masyarakat setempat, untuk membantu memberitahukan perihal duka kepada warga sekitar. Karena, Kak Badri, begitu biasa ia dipanggil, juga tokoh agama di tempat ia tinggal. Permintaan itu ditindaklanjuti dengan mengumpulkan warga ma¬syarakat sekitar kediaman al-marhum. Tidak berapa lama, warga setempat dan sejumlah kolega al-marhum, baik dari UIN Jakarta, maupun dari luar UIN Jakarta, berdatangan. Termasuk Prof .Dr. Ko¬maruddin Hidayat, rektor UIN Jakarta.

Meinggalnya kak Badri, menyisahakan banyak kenangan. Tidak hanya di kalangan keluarga, sahabat, juga komunitas Ciputat.Menurut keluarga, Kak Badri adalah sosok seorang ayah, suami dan pimpinan keluarga yang baik. Ia tidak pernah marah. Jika ia melihat ada di antara keluarga yang berperilaku kurang menyenangkan, nasihat yang keluar. Bukan marah dan sumpah serapah. Itulah Kak Badri. Sementara di kalangan kawan-kawan, Kak Badri dikenal sebagai seorang kawan baik dan setia. Ia tidak membedakan antara satu dengan yang lain. Ia dikenal akrab di hampir setiap generasi yang pernah tumbuh dan berkembang di Ciputat, khususnya di lingkungan komunitas HMI, HP2M, Logos, INCIS, dan lain sebagainya. Sebagai sahabat, ia selalu memberikan wejangan, manakala ada yang datang dan membutuhkan nasihatnya. Tidak pernah menolak, bila diminta urun rembug soal komunitas dan keahliannya dalam bidang sejarah Islam. Ini menjunjukkan bahwa ia merupakan salah seorang kader HMI terbaik yang ada pada jamannya yang mau mengabdikan diri untuk kepentingan organisasi dan komunitas Ciputat.

Kepedulian ini merupakan buah dari berbagai aktivitas yang pernah digelutinya selama menjadi mahasiswa, dosen dan dekan Fakultas Adab dab Humaniora. Kita sama tahu kalau Kak Badri adalah aktivis yang tidak mau terjebak dalam aktivisme.
Sebagai aktivis, khususnya selama menjadi mahasiswa, ia pernah menakhodai Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Fakultas Adab IAIN Jakarta periode 1979-1980, ketika saya masih belum apa-apa. Di organisasi inilah Kak Badri mengembangkan kemampuan leadership dan intelektualnya, sehingga ia menjadi Kak Badri yang kita kenal, seorang intelektual, sejarahwan/akademisi yang cukup diper¬hi¬tungkan di kalangan aktivis dan akademisi lainnya, baik di lingkungan IAIN/UIN Ciputat, maupun di luar Ciputat. Lewat dia, saya dan kawan-kawan di lingkungan Fakultas Adab ketika itu, termasuk Fuad Jabali, dikader. Pada saat itu, dan juga sesudahnya, kaderisasi dilakukan terus oleh Kak Badri, meskipun ia sudah tidak lagi menjabat sebagai Ketua Komisariat HMI Fakultas Adab. Banyak pengalaman dan pengetahuan yang saya peroleh dari beliau. Ketegaran dan ketegasannya dalam mengatasi berbagai persoalan yang dihadapi kawan-kawan HMI Ciputat, membuat saya kagum. Ia tidak pernah marah, meski kita seringkali dibuat tidak sabar. Ia tetap tegar memberikan wejangan dan mendiskusikan untuk mencari solusi terbaik untuk mengatasi persoalan. Karena itu, kemudia ia dipercaya untuk menjadi Ketua Bidang Kader HMI Cabang Ciputat periode 1981-1982.

Kepemimpinan Kak Badri terlihat sangat jelas ketika ia menjadi Ketua Senat Mahasiswa, kini BEMF, Fakultas Adab IAIN Jakarta periode 1982-1984. Pada saat itulah, secara langsung saya berinteraksi dengan Kak Badri. Berdiskusi banyak hal. Tidak hanya masalah organisasi, juga masalah-masalah akademik. Karena saya tahu, ia selain sebagai aktivis, juga sebagai intelektual muda yang potensial, terutama pada bidang yang digelutinya, Sejarah Islam. Pada saat itu, referensi bahan bacaan, khususnya Sejarah Islam, belum banyak tersedia. Sementara ia telah memiliki banyak referensi untuk itu. Bahkan ia tak segan meminjamkan buku-buku kepada saya, dan terkadang lupa mengembalikan. Ia tidak marah, bahkan bertanya. Apa yang Anda peroleh dari buku yang saya pinjamkan. Di situlah, saya dan kawan-kawan, khususnya Fuad Jabali, berdiskusi sampai larut. Dan wawasan kami kian bertambah. Lewat beliau, saya dan Fuad Jabali (ketika itu ia menjadi Ketua Senat Mahasiswa Fak. Adab periode 1996-1998, dan Kak Badri sebagai Direktur HM2M), bersiskusi untuk mendirikan sebuah lembaga kajian sejarah di Fakultas Adab. Hasilnya, pada tahun 1988, terbentuklah LS2KI (Lembaga Studi Sejarah dan Kebudayaan Islam), dan saya dipercaya untuk memimpin lembaga ini. Tidak cukup hanya di situ. Kak Badri menjadi narasumber tetap dalam kajian sejarah pada LS2KI. Di bawah bimbingan dan arahan Kak Badri, lembaga ini berjalan dengan baik.

Selain sebagai aktivis dan akademisi, ia juga dikenal sebagai seorang jurnalis. Ia pernah menjadi reporter dan tim redaksi Majalah Panji Masyarakat, dan redaktur Mimbar Ulama, MUI Pusat. Pengalaman inilah yang kemudian ditransfer ke kawan-kawan Ciputat, sehingga banyak kawan-kawan HMI Ciputat yang mengikuti jejaknya, sebagai jurnalis. Ketika itu, seorang jurnalis, yang masih aktiv sebagai mahasiswa, mencari nafkah untuk membiayai hidupnya. Mereka memiliki posisi penting di kalangan kawan-kawan mahasiswa. Kita tidak hanya berdiskusi dengan kawan-kawan jurnalis, termasuk Kak Badri, juga meminta agar mereka membuka jaringan buat yang lain. Lebih dari itu, hampir setiap kegiatan yang dilakukan HMI Cabang Ciputat atau Komisariat, tak segan kita meminta bantuan dana. Cara-cara inilah, saya kira, yang kini masih diteruskan oleh generasi kini, mungkin juga seterusnya, meskipun menurut saya, kurang efektif. Karena, hanya saat-saat tertentu, komunikasi terjalin antara junior dengan senior. Catatan penting saya, untuk yang satu ini, perlu dirubah, agar tidak terkesan kaderisasi HMI hanya lewat cara-cara seperti itu.

Ada pengalaman menarik ketika saya bersama Kak Badri menulis buku, " Ensiklopedi Mini Sejarah dan Kebudayaan Islam, dan buku "Madrasah dalam Arus Dinamika Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia". Saat itu, tepatnya tahun 1998, saya dan Kak Badri tengah bergadang menulis. Dengan semangat seorang akadmisi, ia terus membaca, menulis dan berdiskusi. Peristiwa itu terjadi di tengah malam. Mungkin pukul 00.2 dini hari. Saya tidak tahan melawan rasa kantuk. Lalu saya tertidur. Ketika terbangun pada pukul 004. dinihari, Kak Badri masih asik membaca dan menulis. Saya tidak melihat rasa lelah pada dirinya. Usai shalat subuh, saya melanjutkan membaca dan menulis. Sementara Kak Badri, shalat subuh dan kembali lagi menulis. Itulah yang saya salut dari Kak Badri. Tidak merasa lelah, karena di sampingnya selalu ada kopi dan rokok. Rupanya, kedua jenis makhluk ini yang selalu menemaninya saat ia menulis. Kami bekerja siang malam, untuk menyelesaikan tulisan itu. Karena memang tengah ditunggu untuk diterbitkan.

Melihat itu semua, saya menyadari sepenuhnya bahwa Kak Badri, bukan hanya sebagai seorang guru, juga sebagai sahabat setia, yang mau membantu dan memberikan pengetahuan, keterampilan dan pengalamannya pada saya, dan tentu juga pada orang selain saya. Karena itu, banyak pelajaran yang saya dapatkan dari Kak Badri. Keseriusannya belajar, membaca dan bekerja, dapat saya terapkan, minimal untuk diri sendiri. Hanya ada dua hal yang belum bisa saya ikuti dari sikap Kak Badri, kesabaran dan empatinya pada kawan-kawan, baik di Ciputat atau komunitas lainnya.
Sebagai seorang guru, Kak Badri sangat terbuka, dan mau memberikan informasi penting pada murid yang membutuhkan informasi. Di kalangan Ciputat, Kak Badri dikenal sebagai sejarawan muslim, yang mengetahui banyak tentang peristiwa sejarah Islam. Kata salah seorang kawan, Fuad Jabali, Kak Badri sangat kaya data dan memliki pandangan yang sangat luas dalam bidang Sjarah dan Peradaban Islam. Untuk sementara ini, sulit mencari pengganti orang sekaliber Kak Badri, terutama dalam bidang Sejarah Islam.

Kak Badri juga pernah menjadi promotor saya dalam penulisan disertasi. Ketika itu, ia masih menjabat Dekan Fakultas Adab dan Humaniora. Draft disertasi yang saya ajukan, benar-benar dibaca dan dikoreksi, sehingga hasilnya cukup memuaskan bagi saya. Ia selalu mendorong saya untuk segera menyelesaikan, bahkan membantu saya dalam memberikan data-data yang saya butuhkan untuk menulis disertasi. Berkat dorongan dan bantuanya, akhirnya saya dapat menyelesaikan disertasi. Terima kasih, Kak Badri. Kaulah guru sekaligus sahabat setia yang selalu membantu dalam segala kesusahan. Selamat jalan Kak Badri. Semoga amal yang diberikan bermanfaat, sebagai amal jariah yang Kak Badri berikan.
Wassalam,

Murodi

Catatan dari seorang murid