Senin, 10 Agustus 2009

Burung Merak Terbang Menuju Nirwana

Bebarapa hari setelah kepergian Mabh Surip, pelantung Tak Gendong Ke Mana-mana, salah seorang sahabatnya, WS.Rendra, juga menyusul. Kedua sahabat ini, dimakamkan pada lokasi yang sama, di pemakaman pribadi WS.Rendra, di Bengkel Theatre milik WS. Rendra, Cipayung, Depok, Jawa Barat. Ribuan orang mengantarkannya pada tempat peristirahatan terakhir, sebelum menuju nirwana.

WS. Rendra, sang Burung Merak, begitu ia memperoleh gelar sebagai ikon sastra Indonesia dari kawan-kawannya, dikenal sebagai penyair kenamaan. Banyak karya sastra yang tertuang dalam puisinya, menyadarkan pemerhati sastra Indonesia. Betapa tidak. Sebagai sastrawan, ia tak segan melakukan kritik tajam pada para penguasa, terutama penguasa Orde Baru. Penampilannya yang nyentrik, terkesan urakan, merupakan simbol kedekatannya pada masyarakat kecil. Ia memang selalu membela kepentingan rakyat kecil. Ini ditunjukkannya dalam setiap karya yang bernafaskan kerakyatan.

Di antara karya monumentalnya adalah Burung Merak. Sebuah karya sastra yang menghantarkan dirinya menjadi simbol atau ikon sastrawan Indonesia modern. Meskipun usianya tidak muda lagi, ia terus berkarya. Suaranya yang menggelegar, bergemuruh, menghentak semua orang yang mendengarkan puisinya.

Di akhir hayatnya, ia masih sempat menulis puisi, yang berisi keinginannya berjumpa dengan Tuhan. Selamat jalan " Burung Merak". Semoga tiba di nirvana.

Murodi